15 Februari 2013

“ CINTA “


          

Rachel
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya aku sampai juga dikota ini. Kota dimana suka dan duka silih berganti dihidupku, aku memperhatikan toko – toko yang biasa kukunjungi bersama Ibuku, Rebecca, Jake, dan ayahku. Bayang bayang masa kecilku terlihat jelas di benakku, tak terasa airmataku mengalir mengingat kebahagiaan kami semasih ada ibu. Aku menghapus airmata ini, aku tarik nafas dalam aku mencoba tersenyum agar ayahku tak terbebani dengan kedatanganku yang penuh airmata ini “Dadddd.. Jakeeee..kalian dimana??”aku mengetuk beberapa kali pintu tapi tak ada yang membukakan, aku berlari ke halaman sebelah mencoba mencari digudang tua yang biasa adikku gunakan sebagai bengkel pribadinya. Tapi tak membuahkan hasil, setelah ku perhatikan sekeliling ternyata aku menyadari mobil adikku tak ada. Aku duduk dikursi goyang, badanku terasa pegal semua capek rasanya. Akhirnya aku ketiduran, ketika aku terbangun aku mendapati diriku ada disebuah ruangan. Aku mengenal wangi ruangan ini aahh sudah lama aku tak tidur ditempat ini, eeh tapi sapa yang mindahin tubuhku yaa,khan tadi aku tidur di luar “Kak Rachel uda bangun??”kudengar suara berat lelaki dari luar saat aku menoleh kepintu ternyata “Jakeeee??itu benar dirimuu???”aku cukup kaget melihat perkembangan tubuh adikku yang baru kutinggal 2 tahun ini “iyaa ini aku, emang kakak pikir sapa lagi yang ada dirumah ini kecuali aku dan Dad”jawabnya “bukann maksudku perkembangan tubuhmu begitu pesat, padahal sewaktu aku tinggal kau kurang 2 inci dari ku”aku segera bangun dari tempat tidurku bergegas mendekatinya untuk memeluknya,tapi ketika aku mencoba untuk mencium pipinya “Nooooo, kakak apa apaan sihhh khan aku uda gede kak..jangan cium cium kenapa khan maluu”ujarnya malu, pipinya merona bewarna sedikit pink “hahahahhahahha iyaa iyaaaa..oiya Daddy kemana??”ujarku sambil mengacak ngacak rambutnya”daddy ada dibawah nungguin kita untuk makan malam”kami berdua melangkah menuruni tangga”Dinner??emang ini jam berapa dek??”aku kaget begitu mendengar kata dinner “jam 7 malem kak, kakakk sihh tidur masih aja kayak kebo..mana ngigau sambil ngiler lagi “jawabnya”apaan mana ada aku ngileerr,kalo ngigo ama kebo boleh lahhh”kataku cengir. Sesampainya di meja makan aku langsung memeluk orangtuaku satu satunya ini aku juga mencium pipinya “Daddy apa kabar??Rachell kangeenn banget ama Daddy”ujarku “Daddy juga kangen kamu..yaahh beginilah keadaan Daddymu yang sudah tua ini, masih sehat bugar walaupun dikursi roda”ada haru yang terlintas “udah donk kangen kangenannya tar lagi, aku laperr nieeee”ujar Jacob “iyaaa iyaa.. oiya Jake gimana dengan sekolahmu??”sambil memasukkan sendokku yang sudah penuh berisi kentang “Lancarr jayaaaaa”ujarnya sambil memotong daging “kamu gimana disana nak??kerjaanmu lancar semua??apa kabar Ryan??”rentetan pertanyaan keluar dari bibir Daddy “aku sehat dan baik Dad..Bosku juga sangat baik, dia yang mengijinkanku untuk cuti sebulan..Oiya Ryan kirim salam untuk kalian berdua, tadinya dia mau ikut kesini hanya saja pekerjaannya tidak memungkinkannya untuk cuti”jawabku. Malam itu kehangatan keluarga kudapatkan lagi, saking hangatnya aku sampe nambah 2 kali ( entahlah karena aku yang gembul atau Jake yang terlalu sering bikin makanan enak ).
Keesokan paginya Aku dan Daddy pergi berbelanja sekalian jalan jalan berdua dengannya, sudah lama aku tak pergi berdua dengan ayahku ini. Ketika keluar dari toko kelontong “Haii billy..”sapa seseorang saat kami menoleh ternyata Sam dan gerombolannya “ohhh Hai Nak…mana Emily??”sapa ayahku “Emmy sedang dirumah Bill, dia sedang hamil besar jadi aku tak mengijinkannya untuk keluar terlalu jauh”jawab Sam “Wahhh sebentar lagi kau akan menjadi Ayah..Congrats Sam”ujarku “Yaa ammpunn Rachelll..my sister, apa kabar kamuu??makin cantik ajaa??”ujar Sam sambil memelukku  “I’m Finee Sam..kamu gimana??kok gag ngundang ngundang??aku balik bertanya “yaaa kami semua baikk..maafkan Chel, maaf kemarin itu undangannya terbatas jadi hanya yang dekat saja yang diundang..Oh iyaa kamu masih ingat Paul,Jared,dan Quil kan??” “Ouhh tentu saja..haii semuaaaa, wahhh perkembangan kalian begitu pesat yaaa, sama seperti Jake..kalian semua makan apa sih??”tanya ku sambil menyalami mereka satu satu, tibalah aku pada jabatan terakhir “hai Paul??”sapaku yang kusapa hanya terdiam lumayan lama kami bertatapan “Rachel,  daddy sudah laper”ujar Daddy mengagetkanku “Opss sorry”kataku sambil menarik tanganku kembali “sepertinya kami harus pulang, so Sam mainlah kerumah ajak Emy juga yaaa??”ujarku pada Sam tanpa berpaling dari wajah Paul. Entah mengapa ada getar aneh yang tak pernah kurasakan seperti ketika aku bertemu Ryan.
Paul
“hallo mom, aku lagi disupermarket nie..ada yang mau dibeli gag sebelum aku pulang??”ujarku sambil membawa beberapa belanjaan “mommy nitip saos tomat aja”ujar suara diseberang “okey Mom..10 menit lagi aku nyampe Rumah..love you mom”aku menutup percakapan kami. Ketika aku akan keluar dari supermarket ini aku berpapasan dengan Rachel, kami bertatapan lama dan terdiam sampai “ouh haii Chel”sapaku “haii Paul..apa kabar??”sapanya “baik..mau belanja Chel??”tanyaku “ouhh yaaa..”jawabnya kulihat keraguan dari matanya dan gesture tubuhnya “kalo gitu..emmm..aku duluan..sampai ketemu lagi byee”sebenarnya aku tak mau mengakhiri percakapan ini tapi mau gimana lagi. Didalam mobil tiba tiba aku teringat peristiwa 2 hari yang lalu dimana aku merasa tunduk pada hukum imprintee. Hukum dimana werewolfs harus mengutamakan kebahagiaan objek imprinteenya. Dan aku meyakini bahwa dia memang tercipta untukku.
Rachel
Tuhann..kenapa harus bertemu dia lagi??kenapa getaran aneh ini harus hadir kenapaaa Tuhan ??apa rencanamu dibalik ini semua Tuhannn.. aku merasa tiba tiba jantungku berdetak tak karuan, tiba tiba ada suatu magnet begitu hebat yang kurasakan saat bertemu dengannya. Sama seperti saat ini, disini di supermarket ini aku gelagapan setiap diajaknya berbicara. Tiba tiba drtttt..drtttt.drtttt handphoneku bergetar “Haloooo baby…”suara diseberang sana terdengar begitu khawatir “haloo sayang..maaf aku belum sempat meneleponmu, aku terlalu sibuk mengurusi semua kebutuhan daddy dan Jake..oh iya mereka nitip salam buat kamu”ujarku seceria mungkin “akuu khawatir padamu dear, takut kamu kepincut cowok cowok di La Push”ucapan Ryan bagaikan petir disiang bolong untukku dengan gelagapan aku menjawab “yaa ampunn sayang gag mungkinlah aku jatuh hati pada mereka, mereka semua gag lebih dari saudaraku sendiri” “Mr. Adryan Leevine..”samar aku mendengar suara wanita memanggail nama tunanganku ini “kamu lagi dimana sayang??itu siapa yang manggil kamu”tanyaku bingung “aku akuu..nanti saja aku ceritakan tunggu kamu balik, aku harus pergi dulu yaa kamu baik baik disana I love you my angel”belum sempat aku bertanya telepon telah diputus oleh Ryan. Ada apa dengan Ryan kenapa nada suaranya begitu cemas, atau mungkin hanya perasaanku saja??. Sorenya Jake pulang membawa wanita yang begitu cantik “Wahh Adikku uda gede yaa..uda berani bawa cewek kerumah”godaku itu membuat pipi keduanya memerah “kak Achel, kenalin ini Nessie ehh Reneesme..Nessie ini kakakku yang paling tua dan paling cerewet”Jake memperkenalkanku pada Nessie “Wahh jangan didengerin Ness..ini anak suka pikun padahal yang paling tua itu bukan cuman aku tapi Rebecca jugaaa saudara kembarku”ujarku sambil memeluk dan cium pipi kanan pipi kiri Nessie “Wahhh masalah dateng nie..”ujar Jake sambil berbisik “Apa Jake??”tanyaku sambil melihat arahnya menoleh ternyata Paul datang bersama Embry “ayoo masuk Ness..”Jake pun menarik tangan Nessie kedalam rumah. Getaran itu menghampiriku lagi mengalirkan dingin ketelapak tanganku yang membuatku semakin gelisah “Hai Paul.. Hai Embry..ada apa??”tanyaku “aku kesini memberitahukan bahwa Emily dan Sam akan mengadakan pesta kecil kecilan untuk putra putri kembarnya dan kalian semua diundang”ujar Embry, kami terus saling menatap aku dan paul tentu saja. Aku tak mengerti kenapa aku tak bisa berpaling dari mata itu sedetik saja “Mereka bilang akan menelpon kalian nanti..aku harap kamu datang maksudku mereka berharap kalian semua datang “aku melayang mendengar ucapannya yang berharap aku datang aku hanya bisa mengangguk “kalau begitu kami pamit dulu..sampai bertemu lagi”pamit Embry dan kami masih tetap saling memandang satu sama lain “c’mon Paul..masih banyak yang harus kita lakukan”ujar Embry sambil menarik tubuh besar Paul “samapi berjumpa lagi..”dia mengedipkan matanya dan tersenyum...
          Paul
          “Paul dan Embry tolong beritahukan keluarga Billy, untuk acara malam minggu besok, setelah itu mampir kerumah keluarga Cullen dan Edward”ujar Sam ketika kami Wolfspack berkumpul di rumahnya. Oh iya namaku Paul Lahote salah satu Wolfspack alias serigala. Dan Sam menjadi pemimpin kami di pack ini. Kami berdua mengangguk dan segera melangkah, walaupun sebenarnya aku tidak begitu menyukai keluarga Vampire vegetarian ini tapi mau bagaimana lagi jika nanti aku menikah dengan Rachel otomatis aku akan menjadi ipar dari anak mereka Reneesme. Dari kejauhan aku memandang wajah cantik yang selalu hadir disetiap mimpiku. Dia begitu cantik menggunakan atasan berwarna peach dan bawahan celana jeans hitam selutut. Kami semakin dekat, dan rasanya ada sesuatu yang menarik jantungku untuk lebih dekat dengannya. Setiap gerakan rambutnya seakan menamparku, Tuhan inikah yang dirasakan teman temanku Jake, Sam, Quil dan Jared. Inikah rasanya meng - imprint. “aku harap kamu bisa datang..aku sangat mengharapkannya”gumamku saat aku berkata begitu Embry menyenggol tubuhku “Mereka bilang akan menelpon kalian nanti..aku harap kamu datang eeh maksudku mereka berharap kalian semua  datang’ujarku gelagapan. Ingin rasanya ku hajar embry saat menarik tubuhku dari sisinya “kamu itu ngapain sihh Em..kamu gag tau apa aku lagi ngapain?”bentakku “aku tau Paul, itu objek imprintmu tapi kita masih punya tugas yang lain..kamu gag maukan kena marah Sam”jawab Embry santai “udah kamu aja yang pergi kesana, aku mau balik lagi kerumah Jake..sekali lagi kamu ganggu acaraku, kupatahkan lehermu”aku mengancamnya”oke Finee..baiklah terserah padamu saja Paul..lebih baik pergi bersama Seth saja tadi”Embry pun berlari menuju rumah keluarga Clearwater, sedangkan aku kembali kerumah Black berharap bisa berbincang sebentar dengannya. Aku mengetuk pintu rumah bercat putih ini. “Ouhh hai Paul..ada apa??”matanya terlihat berbinar seperti sinar berlian “emmm emm..hai Rachel, maukah kau pergi keluar sebentar??”tanyaku “kapan??”dia balik bertanya, terdengar nada antusias tapi kemudian mimik mukanya seketika berubah “sore ini bisaaa??””tanyaku “hemm baiklah” kamipun berpisah.
Rachel
          Sore ini aku akan keluar dengannya. Semua baju yang kupunya kukeluarkan. Aku padu padankan, Jake yang lewat “ kakak mau kemana??”tanyanya “mau keluar..”aku nyengir “sama siapa??Paul??”tanyanya lagi “yups”jawabku. Setelah hampir satu jam aku bercermin akhirnya pilihanku jatuh pada Jeans hitam dan blouse satin berwarna pink. 1 jam kemudian “kaaaaaakkkkk…nieee si beruang itemmm nyariin kakakkkk”teriak Jake dari luar  “iyaaa iyaaaa”aku pun berlari..Paul disana memakai kaos putih dan jaket kelihatan gantengg bangeeeeeettt..”haiii..”sapanya “haiii”aku menjawabnya”ready???tapi naik sepeda yaaa gag papa khan”tanyanya “gag papa kok..dengan senang hati” aku duduk menyamping dibonceng didepan. Gag tau kenapa rasanya nyaman banget ketika kami sedekat ini.bisa mencium wangi parfumnya memandang wajahnya dari dekat sesampainya di pantai kami berjalan menyusuri pantai. Berbincang tentang segala hal. Dia juga mengakui kalau dia adalah salah satu anggota dari wolfspack. Tadinya gag percaya tapi karena bukti disekitarku mengarah kearah yang dia percayai, aku jadi memahami segalanya. Begitu juga ketika dia membicarakan tentang Imprinte. Dia mengatakan akulah Objek Imprinteenya. “Tapi Paul, gag semudah itu.. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu paul.. aku tau aku mencintaimu.. tapi bagaimana dengan Ryan??”tanyaku ingin rasanya aku menangis, meratapi kekhilafanku ini aku tak ingin menyakiti keduanya tapi apa yang harus kulakukan. “Siapa Ryan??”tanyanya bingung, Tuhaaaaannn tak tega rasanya melihat kekecewaan dimatanya “jawab akuu Chel.. SIAPA RYAN?”dia mencengkeram lenganku sangat kuat “sakitt Paull sakit.. tolong lepasin”ujarku berusaha melepaskan diri, semakin kuat aku berusaha semakin dalam cengkeramannya “tolong Paul..”aku memohon mohon kepadanya. Amarah terpancar jelas diwajahnya, Getaran hebat melandanya “Paul lepasin Kakakku sekarang juga!!!!!”teriak Jake yang entah darimana tiba tiba ada disini bersama Nessie dan ayahku “Kuperintahkan sekali lagi kepadamu PAUL LAHOTE lepaskan kakakku sekarang juga”Jake menarik paksa tangan Paul dari lenganku, bersamaan dengan itu Sam dan Embry serta Quil datang menghampiri kami memegang Paul yang diam tak bergeming. Nessie memelukku , aku menangis dipelukannya. Jake memberikanku jaketnya Daddy menggenggam tanganku. Aku tak berhenti menangis “Ini Kak..aku bikinin cokelat hangat biar kakak bisa lebih tenang”Nessie menyodorkan segelas cokelat hangat ketanganku “thanks Ness..”aku mencoba tersenyum “Kakak mungkin kaget dengan sikap Paul yang seperti itu, tapi perlu kak Achel tau biasanya dia lebih meledak ledak lagi kalau marah, gag seperti tadi yang hanya diam kak..aku yakin dia mencoba sempurna untuk kakak.”Nessie mencoba membela Paul “aku bukan bermaksud membela Paul kak..hanya saja aku menghargai usahanya!!sama saat aku melihat Jake  begitu gigih memperjuangkanku dulu”sepertinya Nessie mengetahui jalan pikiranku “iyaa Ness..i know, tapi jujur aku butuh waktu untuk beberapa saat agar menetralkan perasaanku, karena kamu tau sendiri Jake tidak menyukai Paul dan aku sudah memiliki tunangan di sana Ryan.. aku yakin Jake pernah menceritakan itu”ujarku dengan bibir bergetar tak terasa air mataku mengalir lagi “iya kak..itu semua harus dipikirkan dengan panjang dan hati tenang kak..intinya adalah ikuti kata hati, karena kata hati tak pernah membohongi kita”Nessie menyodorkan tisu dan menghapus airmataku ‘Thanks Ness..pasti Jake bangga punya kamu disisinya”ujarku.
Paul
          Aku masih emosi ketika tau di hati Rachel ada orang lain bukannya Imprintee itu mengikat satu sama lain yaaa “Paul..aku sangat menyayangkan apa yang terjadi tadi..untung hal yang sama dengan Emily tidak terjadi ke Rachel..kamu bayangkan kalau itu terjadi sama Rachel..kamu pasti akan menyesalinya seumur hidup Paul”ujar Sam “Aku tau Sam..aku tau tapi aku juga sakit begitu dia menyebut nama Laki laki itu begitu dia bilang tentang Ryan..aku kecewa Jujur”keluhku “Mann..Imprintee itu adalah saat dimana kebahagiaan objek Imprintee kita adalah Raja diatas segalanya kecuali Tuhan. Jadi jangan harap dia akan mencintaimu jika kamu tidak bisa mengendalikan emosimu..Karena cinta itu bukan menyakiti, tapi membahagiakan orang yang kita cinta Paul…”Sam  meletakkan tangannya dibahuku, Selama ini Samlah orang yang selalu kucurhati tentang apapun tentang segalanya. Dia layaknya ayah dan kakak bagiku beruntung aku memilikinya “Thanks Sam..besok aku akan meminta maaf padanya..Aku juga merasa bersalah”ujarku lirih.
Rachel
          Malam ini kami berempat bersiap siap berangkat kerumah Sam dan Emy. Sebenarnya dalam hati aku merasa taku dan deg degan tak karuan entah kenapa perutku jadi mulas. Aku yakin disana aku akan bertemu dengan Paul. Aku merindukannya terlalu dalam malah, tapi aku takut jika aku harus melihat mata yang begitu kecewa itu lagi. Aku takut melihatnya terluka lebih dalam. Semakin mendekati rumah Uley, aku semakin deg degan. Tadinya aku tak mau turun tapi daddy meyakinkan bahwa segalanya akan baik baik saja. Sesampainya didalam “Rachelllll..”suara itu begitu Familiar, aku menoleh kearah suara itu “Emyyyyyyyyyy….”aku menjeritt sekencang mungkin, gag peduli semua orang melihat kearah kami. Kami berpelukan erat laammmmaa sekali “akuuu kangeennnnnn Sama kamu Chelll..”ujar Emy tanpa melepas pelukan itu “Aku lebih kangen sama kamu.. tapi aku kecewa nieee, kenapa nikah kamu gag ngundang aku huhhh??”tanyaku sambil pura pura ngambek “maaf dear itu terjadi begitu cepat, aku aja gag nyangka akan secepat itu..”jawabnya “aahh banyak alasann nieee..oiyaa mana ponakankuu??namanya siapa??”tanyaku lagi sambil mencari kesegala penjuru “nyari ponakannya atau Uncle Paulll hayoooooooo??”Emily menggodaku, pipiku terasa panas dan merah “kamuu iniiiii…”aku mencubit pinggangnya “aduhh sakitt nieeee…”tak tega juga melihat sahabatku yang habis melahirkan ini meringis “tunggu disini aku akan mengambil Jasmine dan memepertemukannya denganmu Chel..jangan kemana mana yaa..”Emily menghilang dibalik kerumunan tamu yang datang. “Rachel..”ujar Paul mengagetkanku “ehh yaa Paul.. ada apa??”aku tergagap “aku ingin bicara dengamu sebentar boleh??”tanyanya “ehmmm ehmm..aku juga ada yang mau aku bicarakan denganmu juga”jawabku. Paul meraih tanganku dan menggenggamnya dengan penuh dengan kehangatan tidak seperti waktu itu. Kami berjalan dan duduk dikebun belakang rumah ini, dia tak melepaskan tanganku sedetik pun “Chell, maafkan sikap ku kemarin yaaa..aku terlalu emosi..mungkin karena aku terlalu cemburu, sehingga aku hampir melukaimu”ucapnya “aku juga minta maaf, seharusnya aku tidak berteriak padamu”ujarku lirih. Dia memelukku dan berbisik “I love u” “I Love u too”. Sejak malam itu kami berdua resmi menautkan kasih kami. Hari hari bersamanya begitu indah. Aku meminta untuk dapat bekerja dirumah. Sedangkan Paul melanjutkan menulis skripsinya. Pagi ini aku merencanakan untuk berangkat ke Seatle, aku akan memutuskan hubunganku dengan Ryan. Paul mengantarkanku hingga diperbatasan. Setibanya di Seatle, aku dikejutkan dengan keadaan Ryan yang begitu jauh berbeda. Dia bukan Ryan yang begitu kuat begitu sabar begitu tegap, Ryan yang sekarang adalah Ryan begitu rapuh begitu ringkih begitu emosinal dan Mrs. Leevine ibunda Ryan berkata bahwa usia Ryan tinggal hitungan bulan saja. Ketika aku memasuki kamar yang serba putih ini, aku melihatnya sedang memandang keluar “Ternyata kamu masih ingat aku Chel??”ujarnya begitu sinis “tentuu saja Ryann..tentuu akuu akuu masih ingat kamu..bagaimana aku lupa kalau aku begitu mencintaimu Yan..”aku sedikit tercekat dengan kebohonganku sendiri “ooohh yaaaaa??benarkah itu Cheelll..katakan yang sejujurnya dan lihatlah ke mataku tatap aku”kini Ryan sudah ada dihadapanku, aku memejam mengingat Paul airmataku mengalir “katakan Chel kau mencintaiku atau mengasihaniku??jika yang kedua lebih baik kau keluar dari ruanganku”masih tetap memandangku ‘maafkan akuu paul..tapi ryan lebih membutuhkanku…’ deangan memantabkan hati aku memandangnya menatap ke matanya “aku mencintaimu sama seperti dahulu tak kurang dan tak lebih..”aku mencium keningnya, Ryan memelukku lama.
Paul
          Bagai petir disiang bolong, padahal tadi pagi kami masih berpegangan tangan, aku masih mencium keningnya dan dia mencium pipiku..tapii apa ini kenapa begitu cepat Rachel berubah. Apa yang terjadi??apakah hukum imprinte tak bekerja pada kami..Tuhannn mengapa harus ada cinta, bila cinta itu menyakiti. Arrrrrrrrrrggghhhhhhh aku terus berlari tak tentu arah berlari didalam hutan yang pekat sendiri. Tak berapa lama aku keluar hutan yang ternyata mengarah kerumah Rachel. Aku harus bertemu Billy pasti dia tau apa yang terjadi pada Rachel. Aku merubah wujudku, setelah berpakaian aku melangkah mendekati banunan tua ini aku mengetuk pintunya “ouhh Hai Paul..Ada apa??khan kak Achel gag ada”ujar Jake sinis, aku harus tahan dirin aku harus mampu menahan emosiku jangan hanya karena masalah ini aku melupakan janjiku pada Rachel “aku mau bertemu Billy bisa”ujarku “Masuk..”ujarnya. Tak lama “maaf Paul tapi daddy masih ada urusan..”ujar Jake kemudian “aku hanya ingin bertanya padanya apakah Rachel memberikan kabar padanya, karena tadi siang tiba tiba dia kirim SMS ke aku kalau dia mau putus dariku..aku bingung Jake”airmataku jatuh tak tertahan, sejujurnya aku malu menangis tapi terlalu sakit hati ini “yang aku dengar tadi dari Daddyku bahwa Ryan sakit keras, dan umurnya tak akan lama lagi..Sejujurnya Rachel terlalu mencintaimu paul, aku bisa melihat dari binar di matanya ketika menyebut namamu, ketika habis kencan denganmu,walaupun terkadang aku sebal denganmu karena kamu itu sering gag minta ijin kalo masuk kamarku dan memakan makananku..tapi untuk saat ini aku ingin kalian bahagia selamanya” ujarnya panjang lebar “tapii sampai kapan aku menunggunya Jake” “Paull paulll…”dia merangkulku “terkadang Cinta sejati itu tak harus memiliki..dia cukup merasa bahagia ketika seseorang yang kita cinta itu bahagia..jadi ikhlaskan semua Paul, tuhan telah mengatur jalan kita” sepertinya benar apa yang dikatakan Paul bukankah Sam juga pernah menasehatiku seperti itu “Hhhhhahhhh..mudah memang berbicara seperti itu Jake, tapi aku akan mencoba mencoba untuk melepaskannya terima kasih Jake..maafkan jika aku selama ini bikin kamu kesel”akupun segera pamit pulang. 2minggu kemudian seseorang mengirimkan 2amplop yang satu berwarna cokelat dan yang satu berwarna hitam untukku dan ibuku. Aku membuka amplop itu, kutarik kertas putih bertinta emas berpita pink itu disitu tertulis nama Rachel dan pria itu pria yang bisa membuat Rachel bahagia. Perih sebenarnya membaca surat itu tapi aku harus tegar. Akupun mebuka amplop yang satu lagi ternyata surat penerimaan beasiswa, aku diterima disalah satu universitas di LA, syukurlah ini kuanggap sebagai obat pelipur laraku. Dan syukurnya aku tak perlu menghadiri pesta pernikahan Rachel, keberangkatanku sudah ditentukan 2 hari sebelum pernikahan itu.
Rachel
          Aku lihat kembali layar HPku ‘dear Paul..ada yang harus aku bicarakan mala mini. Aku akan menunggumu di taman dekat hutan jam 19.00 nanti’ aku menekan tombol ‘Send’. Aku harus melakukannya mala mini aku tak boleh membiarkannya terlukaa, aku tau aku tak layak untuk bersama setelah semua yang kulakukan padanya pada hatinya, pada hidupnya. Ketika aku akan melangkah keluar rumah “Mempelai wanita mau kemana sih??kok perginya mengendap endap gitu’ ujar Rebecca sambil menggendong si kecil Vanessa “aku harus menyelesaikan sesuatu Caa..dan mengucapkan perpisahan padanya”ujarku lirih hampir berbisik “kamu harus kuatt Chell..semuanya pasti ada alasannyaaa”Rebecca memelukku erat dan mencium pipiku “I know Caa..thanks dear”aku mengayuh sepedaku ketempat aku dan Paul janjian,aku akan tetap menunggunya meski ia tak datang sekalipun. Tekadku sudah bulat, dingin yang menusuk tulangku tak ku gubris. Aku tetap menunggu 45 menit berlalu, tapi Paul belum muncul juga. Aku mulai khawatir jangan jangan dia tak datang seperti dugaanku, tapi siapa aku yang begitu berani mengaharpkan kedatangannya . bukankah aku yang telah melukai hatinya terlalu dalam, bukankah aku penyebab dia menderita sudahlah ini tak pantas. Aku harus kembali. Ketika aku berjalan menuju sepedaku “Rachell..”suara itu menggetarkan relung hatiku Paul pasti diaa “Paull..kamu datang??”airmataku luruh, entah bagaimana aku menyadari aku terisak dipelukannya, aku meracau meracau “maafkan aku Paul..aku terlalu idiot..aku telah menyakitimu..melukaimu..aku terlalu egooo..aku gag pantas mendapatkan cintamu paul..aku gag pantaasss”Aku menangis menangis tanpa henti, Paul tak berbicara sepatah katapun hanya pelukannya yang semakin erat, hanya tangannya yang mengelus rambutku. Paul diam diam tak bergeming, dan aku terus menyalakan diriku..”Tuhannn kenapa bukan aku saja yang mati, aku tak rela melihat mereka terluka Ryan Paul..aku akuu wanita brengsek”aku berteriak teriak  “ssshh shhh.. sudah shayank sudahh..jangan berkata begitu..bagiku kamu wanita hebat..kamu wanita terindah dihidupku, tolong tolong jangan seperti ini”dia berusaha menenangkanku “tapi Paul, aku tak pantas menerima cinta kalian yang begitu besar”aku masih histeris dipelukannya”enggak shayank..enggakk kamu itu Bidadari yang tercantik diduniaku, kamu gag boleh seperti ini..Ryan membutuhkanmu shayank, STOP MENYALAHKAN DIRIMU SENDIRI”dia meraih mukaku mencium setiap incinya, aku masih tak sanggup membuka mata hanya air mata yang mengalir dipipiku.
Paul
          Aku tak tega melihatnya seperti ini, ingin rasanya aku menghukum diriku sendiri. Betapa egoisnya aku ingin menghakiminya, sedangkan diaa dia lebih rapuh dariku. Aku sungguh bodoh. Aku terdiam memeluknya hingga pagi menjelang. Tak ada yang kami lakukan, mungkin ini adalah cara kami mengungkapkan rasa yang ada dihati kami. Dan jujur kuakui ini adalah perpisahan yang terindah untukku. Berdua dengannya semalaman, memeluknya berteman langit malam bulan dan bintang. Sampai akhirnya “Chell..sepertinya kamu harus pulang, kasian keluargamu dan Ryan mereka akan bingung melihatmu tak ada dikamar”ujarku “sudah pagi yaaa, maafkan aku Paul..aku sudah mengotori jaketmu dengan air mataku”kulihat matanya masih sembab, mungkin akan terlihat membengkak “gag masalah dear..ouh iya sepertinya kamu harus mengompres matamu agar tak terlihat bengkak”sebelum berpisah sekali lagi aku memeluknya dan mencium keningnya “dimanapun aku, seperti apapun keadaanku..satu yang pasti hatiku dan segalanya tentang diriku adalah milikmu”bisikku, dia membalasnya dengan tersenyum kemudian dia mencium kedua tanganku “me too..goodbye my boy” kamipun jalan terpisah. Sesampainya dirumah aku melanjutkan mengePack ngepack semua barang barangku. Pagi ini sebelum berangkat aku sempatkan mengiriminya SMS “dear Bidadariku yang tegar..selamat menempuh hidup baru dengan Ryan..berbahagialah dengannya, aku selalu berdoa yang terbaik untuk hubungan kalian..jangan lupakan aku, aku mencintaimu selamanya” kutekan tombol ‘SEND’, lalu aku melangkah dengan mantap kearah Check in.
Rachel
          Besok pagi aku akan resmi menjadi Mrs Leevine, tapii kenapa hatiku gelisaah??kenapa ada yang mengganjal??kenapa bayang bayang Paul yang muncul??aku mengacak acak rambutku..drrttt drrrttt kubuka layar Hpku ternyata Paul, tak terasa air mataku menetes membacanya “Rachel..”Ecca memanggilku “yaaa..”aku menghapus airmataku dan menoleh kearah Rebecca ddengan tersenyum “Ryan ingin bicara denganmu, dia menunggumu di taman belakang”lanjutnya “yaaa..aku segera kesana..terima kasi Ecca”. Aku berjalan mmenuju taman belakang, sepi dan sunyi hanya ada suara gitar yang dimainkan Ryan “Ryann..”panggilku ‘ouhh haii Dear..sinii dudukk disinii”dia menggeser tubuhnya kesebelah, aku duduk disebelahnya. Dia menggenggam tanganku “terima kasih untuk semua waktu yang telah kau berikan padaku..aku tau rasa cintamu untukku tak pernah ada,aku terlalu egois memaksakan segalanya hingga membuatmu terluka.. maukah kau memaafkanku Chel??”tanyanya, aku terdiam “Chell..”dia berlutut dihadapanku “Please aku mohon..maafkan aku dan keegoanku..aku tak ingin lagi kau terluka..katakan sesuatu Chell..karena mungkin inilah saat terakhir aku bisa menatapmu seperti ini lagi”ada kesungguhan yang terlihat dari matanya “aku yang salah Yan..aku yang menyakitimu..aku yang terlalu mikirin diriku sendiri..aku akuu”airmataku mengalir “noo nooo.. aku gag mau kamu nangis”dia menghapus airmataku dengan jemarinya “Bidadari gag boleh nangis..Bidadari itu harus terus tersenyum..karena kecantikannya akan terlihat disana”ujarnya, aku berusaha tersenyum, memperlihatkan senyum terbaikku untuknya “jika sekarang kamu bukan milikku, aku percaya dikehidupan selanjutnya kamu akan menjadi jodohku”dia mencium keningku tiba tiba dia terjatuh tak sadarkan diri. Aku panik “Jakeeeeeee..Dadddddddd..tolongggg”teriakku “Ryannn ryaaann..bangun shayank..aku disinii bangunnn jangann pergi duluu”airmataku semakin deras, dadaku sesak ‘Tuhannnn..jangan ambil Ryan..jangan tuhaann, aku belum bisa membahagiakannya. Aku mohon tuhann’.Kami membawa Ryan ke UGD “Maaf Bapak bapak dan ibu ibu..Mr Ryan akan ditangani oleh dokter. Mohon untuk sabar menunggu diluar”ujar perawat cantik itu. Tepat pukul 2 malam dokter yang merawat Ryan keluar “Mr. Ryan ingin bicara dengan orangtuanya dan nona Rachel”ujar Dokter tersebut, dengan tergesaa aku berlari kekamar Ryan. Ketika melihat kami datang Ryan melepas oksigen yang terpasang di hidungnya “Mom and dad..mungkin ini saat yang tepat untukku pergi, aku mencintai Mom and dad melebihi segala sesuatu yang ada didunia ini..maafkan aku jika selama ini aku jadi anak durhaka..maafkan aku belum bisa membahagiakanmu mom..”kulihat Mrs Leevine menggenggam tanga Ryan “Rachell..my angel, kamu harus selalu tersenyum, aku gag mau liat ada airmata ketika aku gag disampingmu lagi..karena aku tau kamu wanita kuat..aku mencintaimu Rachh..cheell”setelah berbicara seperti itu Ryan menutup matanya, tak bergerak namun hanya tersenyum. Mrs Leevine mulai histeris dan berteriak memanggil nama Ryan Mr. Leevine dengan panic memanggil perawat sedangkan aku..aku menangis, getaran hebat kurasakan ditubuhku sakit rasanya melihat Ryan pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini. Aku melampiaskan kemarahanku kedinding aku memukul dinding kamar berusaha membenturkan kepalaku sendiri berteriak histeris memanggil Ryan. Saat Jake datang sekelilingku kabur dan aku rasa aku tak sadarkan diri. Hari ini adalah hari pemakamannya, bukan hari pernikahan kami.  Aku berjalan bersama nessie, dia menopangku. Entah mengapa rasanya tubuh ini letihh, hatiku rapuh.
Paul
          Akhirnya tiba juga aku di kota ini, kota dimana Rachel dan Ryan tinggal. Sejujurnya aku tidak rela dipindahkan kekota ini, tapi mau bagaimana lagi jika aku ingin naik jabatan aku harus mau dimutasi. Dan disinilah aku pada akhirnya, tiba dikota yang lebih besar dari forks. Aku berdoa semoga aku tidak dipertemukan dengan Rachel, walau sejujurnya didalam sini dihatiku aku amat sangat merindukan saat saat bersamanya. Sebelum aku kerumah dinasku aku mampir kesebuah minimarket, tapi entah kenapa hatiku bergetar, detaknya lebih cepat dari biasanya. Aku abaikan perasaan itu aku menuju counter minuman dingin, kuambil minuman yang kuinginkan bersamaan dengan itu tangan seseorang juga mengambil minuman itu “ouhh maaafkann saya..”ujarku, dan tuhan sepertinya tidak mendengar doaku RACHEL disini dihadapanku “Rachel??”ujarku dia mendongak “ouhh haii Paul..apa kabarr??”senyuman itu tak pernah bisa kulupa “aku aku baik baik saja”jawabku “ouh iya bagaimana dengan Ryan, dia baik baik saja khan”tanyaku seketika kulihat perubahan itu “kamu tinggal dimana Paul??”dia mengalihkan pertanyaan “aku tinggal dialamat ini”aku menunjukkan kertas yang bertuliskan tangan asistenku “ ini dekat dari rumahku, ayoo kuantar”. Kami berjalan berdua menyusuri jalanan yang penuh dengan pejalan kaki ini, kami mengobrol hal hal ringan sampailah aku didepan sebuah rumah “mau masuk dulu Paul??”tanyanya”tentu saja Chell, aku juga ingin bertemu Ryan”aku pun mengikutinya untuk masuk keruangan yang begitu rapi ini. Aku menyusuri ruangan ini mencari foto foto pernikahan Ryan dan Rachel tapi yang kucari tak kutemukan “Mau minum sesuatu Paul??”tanyanya mengagetkanku “ehh gag usah aku Cuma butuh es batu dan gelas saja agar Coke ku ini lebih enak diminum..Ryan kok gag keliatan Chel?belum pulang kantor yaa?”jawabku “Ryan pergi, Paul..Dia sudah pergi”ada kesedihan dibalik ucapannya itu “pergi??dia pergi meninggalkanmu??setelah aku berkorban dia malah meninggalkanmu”emosiku naik, aku akan mencari Ryan kekantornya akan kupatahkan leher itu “Dia dia sudah pergi kesurga Paul..dia meninggal” bagai petir disiang bolong, aku kaget bukan main dengan segera aku memeluk tubuhnya “maafkan aku Chel..tapi bagaimana bisa??” cerita hari itupun mengalir dari bibir Rachel, Sebelah sayapnya patah dan aku aku tak ada disampingnya untuk menopangnya, rasa bersalah melandaku  lagi.
Rachel
          Sejak pertemuan kembaliku dengan Paul. Hari hariku mulai berwarna lagi. Kerapkali kami menghabiskan waktu di taman berdua sambil membaca buku dan saling berpegang tangan. Atau bersepeda seperti waktu itu. Ada yang lain hari ini Paul memintaku memakai gaun yang dia belikan, gaun Putih gading selutut berpita merah dipinggang. Dia juga memintaku untuk berdandan. Aku mengenakan sepatu Higheels favoritku yang berwarna senada dengan pita digaunku. Tok tok tok aku bergegas turun, ketika aku membuka pintu aku kaget melihat Paul begitu tampan menggunakan tuxedo hitam dan bungan yang disematkan disakunya.”sudahh siapp Tuan Putri”dia menyodorkan tangannya yang kusambut dengan riang “tapi sebelumnya maaf”dia mengeluarkan kain hitam dan menutup mataku “ini surprise untukmu shayank”.  Setelah satu jam lebih “masih lama yaa shayank”tanyaku yang sudah tak sabar “sebentar lagi shayank, 5 menit lagi”dia mencium tanganku. Dalam kegelapan aku semakin bingung “akhirnya kita sampai juga shayank…eitsss penutup mata itu gag boleh dibuka yaa”ujarnya ketika aku akan membuka penutup mata itu, aku pun tersipu malu. “kamu bawa ini yaa”dia memberikan buket bunga padaku, dan sepertinya itu bunga kesayanganku bunga Lily.Setelah 5 meter berjalan samar aku mendengar banyak orang berbicara, ahh mungkinaku dibawa kesebuah café seperti biasa “kita sudah sampai..jangan buka mata dulu sampai aku bilang buka..dan jangan curang yaa”aku merasakan tangan Paul di belakang kepalaku “oke sekarang buka mata kamu shayank”ketika aku membuka mata ternyata aku ada disini didepan makam Ryan, Mr Leevine , Mrs Leevine, Daddyku, Rebecca dan Solomon ,Jake, Nessie, dan Emy. Diantara kebingunganku Paul berlutut sambil menyentuh nisan Ryan “Ryan, hari ini disini didepana makamu, didepan orangtuamu Aku Paul LAhote meminta ijin kepadamu untuk Menikahi Dia, Rachel Black..Bidadari kita bersama, aku akan memenuhi semua permintaan yang ada di wasiatmu..bahwa aku akan selalu ada dikala dia senang dan menangis, saat susah dan mudah, saat sehat dan sakit..saat segala sesuatunya terlalu berat untuknya..Dan untukmu shayank , Rachel Black bersediakah kau menikah denganku??”aku terdiam tak sanggup berbicara apapun, hanya airmataku saja yang berderai. “aku aku bingung mau bilang apa Paul..aku gag nyangka kamu akan begini..sesungguhnya aku bahagia bersamamu..hikss bahagiaa menjalani segalanya bersamamu..tapii..” “Rachel, Mommy bukan mau mencampuri urusanmu ..tapi mommy percayaa mommy yakin jika Ryan disini diapun akan berkata yang sama bahwa dia bahagia melihatmu bahagia..”mendengar itu airmataku semakin deras.aku semakin tak dapat menguasai diri. Sekali lagi aku memandang wajah Mr. dan Mrs Leevine mereka berdua tersenyum dan mengangguk, aku memandang kesegala penjuru mereka semua tersenyum dan antara sadar atau tidak  disana aku melihat Ryan tersenyum dan mengangguk aku ikut tersenyum sambil menangis akupun menjawab “yess..i do..i doo Paull..i dooo”Paul dengan segera memasangkan cincin itu dia memelukku dan berbisik “I love you to much Rachel” “I love you too Paul.. I love youuu”. Setahun kemudian anak lelaki kami lahir kedunia dan kami memberinya nama Ryan Lahote.



                             End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut