Rachel
Setelah
beberapa jam perjalanan, akhirnya aku sampai juga dikota ini. Kota dimana suka
dan duka silih berganti dihidupku, aku memperhatikan toko – toko yang biasa
kukunjungi bersama Ibuku, Rebecca, Jake, dan ayahku. Bayang bayang masa kecilku
terlihat jelas di benakku, tak terasa airmataku mengalir mengingat kebahagiaan
kami semasih ada ibu. Aku menghapus airmata ini, aku tarik nafas dalam aku
mencoba tersenyum agar ayahku tak terbebani dengan kedatanganku yang penuh
airmata ini “Dadddd.. Jakeeee..kalian dimana??”aku mengetuk beberapa kali pintu
tapi tak ada yang membukakan, aku berlari ke halaman sebelah mencoba mencari
digudang tua yang biasa adikku gunakan sebagai bengkel pribadinya. Tapi tak
membuahkan hasil, setelah ku perhatikan sekeliling ternyata aku menyadari mobil
adikku tak ada. Aku duduk dikursi goyang, badanku terasa pegal semua capek
rasanya. Akhirnya aku ketiduran, ketika aku terbangun aku mendapati diriku ada
disebuah ruangan. Aku mengenal wangi ruangan ini aahh sudah lama aku tak tidur
ditempat ini, eeh tapi sapa yang mindahin tubuhku yaa,khan tadi aku tidur di
luar “Kak Rachel uda bangun??”kudengar suara berat lelaki dari luar saat aku
menoleh kepintu ternyata “Jakeeee??itu benar dirimuu???”aku cukup kaget melihat
perkembangan tubuh adikku yang baru kutinggal 2 tahun ini “iyaa ini aku, emang
kakak pikir sapa lagi yang ada dirumah ini kecuali aku dan Dad”jawabnya “bukann
maksudku perkembangan tubuhmu begitu pesat, padahal sewaktu aku tinggal kau
kurang 2 inci dari ku”aku segera bangun dari tempat tidurku bergegas
mendekatinya untuk memeluknya,tapi ketika aku mencoba untuk mencium pipinya
“Nooooo, kakak apa apaan sihhh khan aku uda gede kak..jangan cium cium kenapa
khan maluu”ujarnya malu, pipinya merona bewarna sedikit pink “hahahahhahahha
iyaa iyaaaa..oiya Daddy kemana??”ujarku sambil mengacak ngacak rambutnya”daddy
ada dibawah nungguin kita untuk makan malam”kami berdua melangkah menuruni
tangga”Dinner??emang ini jam berapa dek??”aku kaget begitu mendengar kata
dinner “jam 7 malem kak, kakakk sihh tidur masih aja kayak kebo..mana ngigau
sambil ngiler lagi “jawabnya”apaan mana ada aku ngileerr,kalo ngigo ama kebo
boleh lahhh”kataku cengir. Sesampainya di meja makan aku langsung memeluk
orangtuaku satu satunya ini aku juga mencium pipinya “Daddy apa kabar??Rachell
kangeenn banget ama Daddy”ujarku “Daddy juga kangen kamu..yaahh beginilah
keadaan Daddymu yang sudah tua ini, masih sehat bugar walaupun dikursi roda”ada
haru yang terlintas “udah donk kangen kangenannya tar lagi, aku laperr nieeee”ujar
Jacob “iyaaa iyaa.. oiya Jake gimana dengan sekolahmu??”sambil memasukkan
sendokku yang sudah penuh berisi kentang “Lancarr jayaaaaa”ujarnya sambil
memotong daging “kamu gimana disana nak??kerjaanmu lancar semua??apa kabar Ryan??”rentetan
pertanyaan keluar dari bibir Daddy “aku sehat dan baik Dad..Bosku juga sangat
baik, dia yang mengijinkanku untuk cuti sebulan..Oiya Ryan kirim salam untuk
kalian berdua, tadinya dia mau ikut kesini hanya saja pekerjaannya tidak
memungkinkannya untuk cuti”jawabku. Malam itu kehangatan keluarga kudapatkan
lagi, saking hangatnya aku sampe nambah 2 kali ( entahlah karena aku yang
gembul atau Jake yang terlalu sering bikin makanan enak ).
Keesokan
paginya Aku dan Daddy pergi berbelanja sekalian jalan jalan berdua dengannya,
sudah lama aku tak pergi berdua dengan ayahku ini. Ketika keluar dari toko
kelontong “Haii billy..”sapa seseorang saat kami menoleh ternyata Sam dan
gerombolannya “ohhh Hai Nak…mana Emily??”sapa ayahku “Emmy sedang dirumah Bill,
dia sedang hamil besar jadi aku tak mengijinkannya untuk keluar terlalu
jauh”jawab Sam “Wahhh sebentar lagi kau akan menjadi Ayah..Congrats Sam”ujarku
“Yaa ammpunn Rachelll..my sister, apa kabar kamuu??makin cantik ajaa??”ujar Sam
sambil memelukku “I’m Finee Sam..kamu
gimana??kok gag ngundang ngundang??aku balik bertanya “yaaa kami semua
baikk..maafkan Chel, maaf kemarin itu undangannya terbatas jadi hanya yang
dekat saja yang diundang..Oh iyaa kamu masih ingat Paul,Jared,dan Quil kan??”
“Ouhh tentu saja..haii semuaaaa, wahhh perkembangan kalian begitu pesat yaaa,
sama seperti Jake..kalian semua makan apa sih??”tanya ku sambil menyalami
mereka satu satu, tibalah aku pada jabatan terakhir “hai Paul??”sapaku yang
kusapa hanya terdiam lumayan lama kami bertatapan “Rachel, daddy sudah laper”ujar Daddy mengagetkanku
“Opss sorry”kataku sambil menarik tanganku kembali “sepertinya kami harus
pulang, so Sam mainlah kerumah ajak Emy juga yaaa??”ujarku pada Sam tanpa
berpaling dari wajah Paul. Entah mengapa ada getar aneh yang tak pernah
kurasakan seperti ketika aku bertemu Ryan.
Paul
“hallo
mom, aku lagi disupermarket nie..ada yang mau dibeli gag sebelum aku
pulang??”ujarku sambil membawa beberapa belanjaan “mommy nitip saos tomat aja”ujar suara diseberang “okey Mom..10
menit lagi aku nyampe Rumah..love you mom”aku menutup percakapan kami. Ketika
aku akan keluar dari supermarket ini aku berpapasan dengan Rachel, kami
bertatapan lama dan terdiam sampai “ouh haii Chel”sapaku “haii Paul..apa
kabar??”sapanya “baik..mau belanja Chel??”tanyaku “ouhh yaaa..”jawabnya kulihat
keraguan dari matanya dan gesture tubuhnya “kalo gitu..emmm..aku duluan..sampai
ketemu lagi byee”sebenarnya aku tak mau mengakhiri percakapan ini tapi mau
gimana lagi. Didalam mobil tiba tiba aku teringat peristiwa 2 hari yang lalu
dimana aku merasa tunduk pada hukum imprintee. Hukum dimana werewolfs harus
mengutamakan kebahagiaan objek imprinteenya. Dan aku meyakini bahwa dia memang
tercipta untukku.
Rachel
Tuhann..kenapa
harus bertemu dia lagi??kenapa getaran aneh ini harus hadir kenapaaa Tuhan
??apa rencanamu dibalik ini semua Tuhannn.. aku merasa tiba tiba jantungku
berdetak tak karuan, tiba tiba ada suatu magnet begitu hebat yang kurasakan
saat bertemu dengannya. Sama seperti saat ini, disini di supermarket ini aku
gelagapan setiap diajaknya berbicara. Tiba tiba drtttt..drtttt.drtttt
handphoneku bergetar “Haloooo baby…”suara diseberang sana terdengar begitu
khawatir “haloo sayang..maaf aku belum sempat meneleponmu, aku terlalu sibuk
mengurusi semua kebutuhan daddy dan Jake..oh iya mereka nitip salam buat
kamu”ujarku seceria mungkin “akuu khawatir padamu dear, takut kamu kepincut
cowok cowok di La Push”ucapan Ryan bagaikan petir disiang bolong untukku dengan
gelagapan aku menjawab “yaa ampunn sayang gag mungkinlah aku jatuh hati pada
mereka, mereka semua gag lebih dari saudaraku sendiri” “Mr. Adryan Leevine..”samar aku mendengar suara wanita memanggail
nama tunanganku ini “kamu lagi dimana sayang??itu siapa yang manggil
kamu”tanyaku bingung “aku akuu..nanti saja aku ceritakan tunggu kamu balik, aku
harus pergi dulu yaa kamu baik baik disana I love you my angel”belum sempat aku
bertanya telepon telah diputus oleh Ryan. Ada apa dengan Ryan kenapa nada
suaranya begitu cemas, atau mungkin hanya perasaanku saja??. Sorenya Jake
pulang membawa wanita yang begitu cantik “Wahh Adikku uda gede yaa..uda berani
bawa cewek kerumah”godaku itu membuat pipi keduanya memerah “kak Achel, kenalin
ini Nessie ehh Reneesme..Nessie ini kakakku yang paling tua dan paling cerewet”Jake
memperkenalkanku pada Nessie “Wahh jangan didengerin Ness..ini anak suka pikun
padahal yang paling tua itu bukan cuman aku tapi Rebecca jugaaa saudara
kembarku”ujarku sambil memeluk dan cium pipi kanan pipi kiri Nessie “Wahhh
masalah dateng nie..”ujar Jake sambil berbisik “Apa Jake??”tanyaku sambil
melihat arahnya menoleh ternyata Paul datang bersama Embry “ayoo masuk
Ness..”Jake pun menarik tangan Nessie kedalam rumah. Getaran itu menghampiriku
lagi mengalirkan dingin ketelapak tanganku yang membuatku semakin gelisah “Hai
Paul.. Hai Embry..ada apa??”tanyaku “aku kesini memberitahukan bahwa Emily dan
Sam akan mengadakan pesta kecil kecilan untuk putra putri kembarnya dan kalian
semua diundang”ujar Embry, kami terus saling menatap aku dan paul tentu saja.
Aku tak mengerti kenapa aku tak bisa berpaling dari mata itu sedetik saja “Mereka
bilang akan menelpon kalian nanti..aku harap kamu datang maksudku mereka berharap
kalian semua datang “aku melayang mendengar ucapannya yang berharap aku datang
aku hanya bisa mengangguk “kalau begitu kami pamit dulu..sampai bertemu
lagi”pamit Embry dan kami masih tetap saling memandang satu sama lain “c’mon
Paul..masih banyak yang harus kita lakukan”ujar Embry sambil menarik tubuh
besar Paul “samapi berjumpa lagi..”dia mengedipkan matanya dan tersenyum...
Paul
“Paul dan Embry tolong beritahukan keluarga Billy, untuk
acara malam minggu besok, setelah itu mampir kerumah keluarga Cullen dan Edward”ujar
Sam ketika kami Wolfspack berkumpul di rumahnya. Oh iya namaku Paul Lahote
salah satu Wolfspack alias serigala. Dan Sam menjadi pemimpin kami di pack ini.
Kami berdua mengangguk dan segera melangkah, walaupun sebenarnya aku tidak begitu
menyukai keluarga Vampire vegetarian ini tapi mau bagaimana lagi jika nanti aku
menikah dengan Rachel otomatis aku akan menjadi ipar dari anak mereka Reneesme.
Dari kejauhan aku memandang wajah cantik yang selalu hadir disetiap mimpiku.
Dia begitu cantik menggunakan atasan berwarna peach dan bawahan celana jeans
hitam selutut. Kami semakin dekat, dan rasanya ada sesuatu yang menarik
jantungku untuk lebih dekat dengannya. Setiap gerakan rambutnya seakan
menamparku, Tuhan inikah yang dirasakan teman temanku Jake, Sam, Quil dan Jared.
Inikah rasanya meng - imprint. “aku harap kamu bisa datang..aku sangat
mengharapkannya”gumamku saat aku berkata begitu Embry menyenggol tubuhku
“Mereka bilang akan menelpon kalian nanti..aku harap kamu datang eeh maksudku
mereka berharap kalian semua
datang’ujarku gelagapan. Ingin rasanya ku hajar embry saat menarik
tubuhku dari sisinya “kamu itu ngapain sihh Em..kamu gag tau apa aku lagi
ngapain?”bentakku “aku tau Paul, itu objek imprintmu tapi kita masih punya
tugas yang lain..kamu gag maukan kena marah Sam”jawab Embry santai “udah kamu
aja yang pergi kesana, aku mau balik lagi kerumah Jake..sekali lagi kamu ganggu
acaraku, kupatahkan lehermu”aku mengancamnya”oke Finee..baiklah terserah padamu
saja Paul..lebih baik pergi bersama Seth saja tadi”Embry pun berlari menuju
rumah keluarga Clearwater, sedangkan aku kembali kerumah Black berharap bisa
berbincang sebentar dengannya. Aku mengetuk pintu rumah bercat putih ini. “Ouhh
hai Paul..ada apa??”matanya terlihat berbinar seperti sinar berlian “emmm
emm..hai Rachel, maukah kau pergi keluar sebentar??”tanyaku “kapan??”dia balik
bertanya, terdengar nada antusias tapi kemudian mimik mukanya seketika berubah
“sore ini bisaaa??””tanyaku “hemm baiklah” kamipun berpisah.
Rachel
Sore ini aku akan keluar dengannya. Semua baju yang kupunya
kukeluarkan. Aku padu padankan, Jake yang lewat “ kakak mau kemana??”tanyanya
“mau keluar..”aku nyengir “sama siapa??Paul??”tanyanya lagi “yups”jawabku.
Setelah hampir satu jam aku bercermin akhirnya pilihanku jatuh pada Jeans hitam
dan blouse satin berwarna pink. 1 jam kemudian “kaaaaaakkkkk…nieee si beruang
itemmm nyariin kakakkkk”teriak Jake dari luar
“iyaaa iyaaaa”aku pun berlari..Paul disana memakai kaos putih dan jaket
kelihatan gantengg bangeeeeeettt..”haiii..”sapanya “haiii”aku
menjawabnya”ready???tapi naik sepeda yaaa gag papa khan”tanyanya “gag papa
kok..dengan senang hati” aku duduk menyamping dibonceng didepan. Gag tau kenapa
rasanya nyaman banget ketika kami sedekat ini.bisa mencium wangi parfumnya
memandang wajahnya dari dekat sesampainya di pantai kami berjalan menyusuri
pantai. Berbincang tentang segala hal. Dia juga mengakui kalau dia adalah salah
satu anggota dari wolfspack. Tadinya gag percaya tapi karena bukti disekitarku
mengarah kearah yang dia percayai, aku jadi memahami segalanya. Begitu juga
ketika dia membicarakan tentang Imprinte. Dia mengatakan akulah Objek
Imprinteenya. “Tapi Paul, gag semudah itu.. Aku juga merasakan hal yang sama
denganmu paul.. aku tau aku mencintaimu.. tapi bagaimana dengan Ryan??”tanyaku
ingin rasanya aku menangis, meratapi kekhilafanku ini aku tak ingin menyakiti
keduanya tapi apa yang harus kulakukan. “Siapa Ryan??”tanyanya bingung,
Tuhaaaaannn tak tega rasanya melihat kekecewaan dimatanya “jawab akuu Chel..
SIAPA RYAN?”dia mencengkeram lenganku sangat kuat “sakitt Paull sakit.. tolong
lepasin”ujarku berusaha melepaskan diri, semakin kuat aku berusaha semakin
dalam cengkeramannya “tolong Paul..”aku memohon mohon kepadanya. Amarah terpancar
jelas diwajahnya, Getaran hebat melandanya “Paul lepasin Kakakku sekarang
juga!!!!!”teriak Jake yang entah darimana tiba tiba ada disini bersama Nessie
dan ayahku “Kuperintahkan sekali lagi kepadamu PAUL LAHOTE lepaskan kakakku
sekarang juga”Jake menarik paksa tangan Paul dari lenganku, bersamaan dengan
itu Sam dan Embry serta Quil datang menghampiri kami memegang Paul yang diam
tak bergeming. Nessie memelukku , aku menangis dipelukannya. Jake memberikanku
jaketnya Daddy menggenggam tanganku. Aku tak berhenti menangis “Ini Kak..aku
bikinin cokelat hangat biar kakak bisa lebih tenang”Nessie menyodorkan segelas
cokelat hangat ketanganku “thanks Ness..”aku mencoba tersenyum “Kakak mungkin
kaget dengan sikap Paul yang seperti itu, tapi perlu kak Achel tau biasanya dia
lebih meledak ledak lagi kalau marah, gag seperti tadi yang hanya diam kak..aku
yakin dia mencoba sempurna untuk kakak.”Nessie mencoba membela Paul “aku bukan
bermaksud membela Paul kak..hanya saja aku menghargai usahanya!!sama saat aku
melihat Jake begitu gigih
memperjuangkanku dulu”sepertinya Nessie mengetahui jalan pikiranku “iyaa
Ness..i know, tapi jujur aku butuh waktu untuk beberapa saat agar menetralkan
perasaanku, karena kamu tau sendiri Jake tidak menyukai Paul dan aku sudah
memiliki tunangan di sana Ryan.. aku yakin Jake pernah menceritakan itu”ujarku
dengan bibir bergetar tak terasa air mataku mengalir lagi “iya kak..itu semua
harus dipikirkan dengan panjang dan hati tenang kak..intinya adalah ikuti kata
hati, karena kata hati tak pernah membohongi kita”Nessie menyodorkan tisu dan
menghapus airmataku ‘Thanks Ness..pasti Jake bangga punya kamu
disisinya”ujarku.
Paul
Aku masih emosi ketika tau di hati Rachel ada orang lain bukannya Imprintee itu mengikat satu sama lain yaaa “Paul..aku sangat menyayangkan apa yang terjadi tadi..untung hal yang sama dengan Emily tidak terjadi ke Rachel..kamu bayangkan kalau itu terjadi sama Rachel..kamu pasti akan menyesalinya seumur hidup Paul”ujar Sam “Aku tau Sam..aku tau tapi aku juga sakit begitu dia menyebut nama Laki laki itu begitu dia bilang tentang Ryan..aku kecewa Jujur”keluhku “Mann..Imprintee itu adalah saat dimana kebahagiaan objek Imprintee kita adalah Raja diatas segalanya kecuali Tuhan. Jadi jangan harap dia akan mencintaimu jika kamu tidak bisa mengendalikan emosimu..Karena cinta itu bukan menyakiti, tapi membahagiakan orang yang kita cinta Paul…”Sam meletakkan tangannya dibahuku, Selama ini Samlah orang yang selalu kucurhati tentang apapun tentang segalanya. Dia layaknya ayah dan kakak bagiku beruntung aku memilikinya “Thanks Sam..besok aku akan meminta maaf padanya..Aku juga merasa bersalah”ujarku lirih.
Aku masih emosi ketika tau di hati Rachel ada orang lain bukannya Imprintee itu mengikat satu sama lain yaaa “Paul..aku sangat menyayangkan apa yang terjadi tadi..untung hal yang sama dengan Emily tidak terjadi ke Rachel..kamu bayangkan kalau itu terjadi sama Rachel..kamu pasti akan menyesalinya seumur hidup Paul”ujar Sam “Aku tau Sam..aku tau tapi aku juga sakit begitu dia menyebut nama Laki laki itu begitu dia bilang tentang Ryan..aku kecewa Jujur”keluhku “Mann..Imprintee itu adalah saat dimana kebahagiaan objek Imprintee kita adalah Raja diatas segalanya kecuali Tuhan. Jadi jangan harap dia akan mencintaimu jika kamu tidak bisa mengendalikan emosimu..Karena cinta itu bukan menyakiti, tapi membahagiakan orang yang kita cinta Paul…”Sam meletakkan tangannya dibahuku, Selama ini Samlah orang yang selalu kucurhati tentang apapun tentang segalanya. Dia layaknya ayah dan kakak bagiku beruntung aku memilikinya “Thanks Sam..besok aku akan meminta maaf padanya..Aku juga merasa bersalah”ujarku lirih.
Rachel
Malam ini kami berempat bersiap siap berangkat kerumah Sam
dan Emy. Sebenarnya dalam hati aku merasa taku dan deg degan tak karuan entah
kenapa perutku jadi mulas. Aku yakin disana aku akan bertemu dengan Paul. Aku
merindukannya terlalu dalam malah, tapi aku takut jika aku harus melihat mata
yang begitu kecewa itu lagi. Aku takut melihatnya terluka lebih dalam. Semakin
mendekati rumah Uley, aku semakin deg degan. Tadinya aku tak mau turun tapi
daddy meyakinkan bahwa segalanya akan baik baik saja. Sesampainya didalam
“Rachelllll..”suara itu begitu Familiar, aku menoleh kearah suara itu
“Emyyyyyyyyyy….”aku menjeritt sekencang mungkin, gag peduli semua orang melihat
kearah kami. Kami berpelukan erat laammmmaa sekali “akuuu kangeennnnnn Sama
kamu Chelll..”ujar Emy tanpa melepas pelukan itu “Aku lebih kangen sama kamu..
tapi aku kecewa nieee, kenapa nikah kamu gag ngundang aku huhhh??”tanyaku sambil
pura pura ngambek “maaf dear itu terjadi begitu cepat, aku aja gag nyangka akan
secepat itu..”jawabnya “aahh banyak alasann nieee..oiyaa mana
ponakankuu??namanya siapa??”tanyaku lagi sambil mencari kesegala penjuru “nyari
ponakannya atau Uncle Paulll hayoooooooo??”Emily menggodaku, pipiku terasa
panas dan merah “kamuu iniiiii…”aku mencubit pinggangnya “aduhh sakitt
nieeee…”tak tega juga melihat sahabatku yang habis melahirkan ini meringis
“tunggu disini aku akan mengambil Jasmine dan memepertemukannya denganmu
Chel..jangan kemana mana yaa..”Emily menghilang dibalik kerumunan tamu yang
datang. “Rachel..”ujar Paul mengagetkanku “ehh yaa Paul.. ada apa??”aku
tergagap “aku ingin bicara dengamu sebentar boleh??”tanyanya “ehmmm ehmm..aku
juga ada yang mau aku bicarakan denganmu juga”jawabku. Paul meraih tanganku dan
menggenggamnya dengan penuh dengan kehangatan tidak seperti waktu itu. Kami
berjalan dan duduk dikebun belakang rumah ini, dia tak melepaskan tanganku
sedetik pun “Chell, maafkan sikap ku kemarin yaaa..aku terlalu emosi..mungkin
karena aku terlalu cemburu, sehingga aku hampir melukaimu”ucapnya “aku juga
minta maaf, seharusnya aku tidak berteriak padamu”ujarku lirih. Dia memelukku
dan berbisik “I love u” “I Love u too”. Sejak malam itu kami berdua resmi
menautkan kasih kami. Hari hari bersamanya begitu indah. Aku meminta untuk
dapat bekerja dirumah. Sedangkan Paul melanjutkan menulis skripsinya. Pagi ini
aku merencanakan untuk berangkat ke Seatle, aku akan memutuskan hubunganku
dengan Ryan. Paul mengantarkanku hingga diperbatasan. Setibanya di Seatle, aku
dikejutkan dengan keadaan Ryan yang begitu jauh berbeda. Dia bukan Ryan yang
begitu kuat begitu sabar begitu tegap, Ryan yang sekarang adalah Ryan begitu
rapuh begitu ringkih begitu emosinal dan Mrs. Leevine ibunda Ryan berkata bahwa
usia Ryan tinggal hitungan bulan saja. Ketika aku memasuki kamar yang serba
putih ini, aku melihatnya sedang memandang keluar “Ternyata kamu masih ingat
aku Chel??”ujarnya begitu sinis “tentuu saja Ryann..tentuu akuu akuu masih
ingat kamu..bagaimana aku lupa kalau aku begitu mencintaimu Yan..”aku sedikit
tercekat dengan kebohonganku sendiri “ooohh yaaaaa??benarkah itu
Cheelll..katakan yang sejujurnya dan lihatlah ke mataku tatap aku”kini Ryan
sudah ada dihadapanku, aku memejam mengingat Paul airmataku mengalir “katakan
Chel kau mencintaiku atau mengasihaniku??jika yang kedua lebih baik kau keluar
dari ruanganku”masih tetap memandangku ‘maafkan
akuu paul..tapi ryan lebih membutuhkanku…’ deangan memantabkan hati aku memandangnya
menatap ke matanya “aku mencintaimu sama seperti dahulu tak kurang dan tak
lebih..”aku mencium keningnya, Ryan memelukku lama.
Paul
Bagai petir disiang bolong, padahal tadi pagi kami masih
berpegangan tangan, aku masih mencium keningnya dan dia mencium pipiku..tapii
apa ini kenapa begitu cepat Rachel berubah. Apa yang terjadi??apakah hukum
imprinte tak bekerja pada kami..Tuhannn mengapa harus ada cinta, bila cinta itu
menyakiti. Arrrrrrrrrrggghhhhhhh aku terus berlari tak tentu arah berlari
didalam hutan yang pekat sendiri. Tak berapa lama aku keluar hutan yang
ternyata mengarah kerumah Rachel. Aku harus bertemu Billy pasti dia tau apa
yang terjadi pada Rachel. Aku merubah wujudku, setelah berpakaian aku melangkah
mendekati banunan tua ini aku mengetuk pintunya “ouhh Hai Paul..Ada apa??khan
kak Achel gag ada”ujar Jake sinis, aku harus tahan dirin aku harus mampu
menahan emosiku jangan hanya karena masalah ini aku melupakan janjiku pada
Rachel “aku mau bertemu Billy bisa”ujarku “Masuk..”ujarnya. Tak lama “maaf Paul
tapi daddy masih ada urusan..”ujar Jake kemudian “aku hanya ingin bertanya
padanya apakah Rachel memberikan kabar padanya, karena tadi siang tiba tiba dia
kirim SMS ke aku kalau dia mau putus dariku..aku bingung Jake”airmataku jatuh
tak tertahan, sejujurnya aku malu menangis tapi terlalu sakit hati ini “yang
aku dengar tadi dari Daddyku bahwa Ryan sakit keras, dan umurnya tak akan lama
lagi..Sejujurnya Rachel terlalu mencintaimu paul, aku bisa melihat dari binar di
matanya ketika menyebut namamu, ketika habis kencan denganmu,walaupun terkadang
aku sebal denganmu karena kamu itu sering gag minta ijin kalo masuk kamarku dan
memakan makananku..tapi untuk saat ini aku ingin kalian bahagia selamanya”
ujarnya panjang lebar “tapii sampai kapan aku menunggunya Jake” “Paull
paulll…”dia merangkulku “terkadang Cinta sejati itu tak harus memiliki..dia
cukup merasa bahagia ketika seseorang yang kita cinta itu bahagia..jadi
ikhlaskan semua Paul, tuhan telah mengatur jalan kita” sepertinya benar apa
yang dikatakan Paul bukankah Sam juga pernah menasehatiku seperti itu
“Hhhhhahhhh..mudah memang berbicara seperti itu Jake, tapi aku akan mencoba
mencoba untuk melepaskannya terima kasih Jake..maafkan jika aku selama ini
bikin kamu kesel”akupun segera pamit pulang. 2minggu kemudian seseorang
mengirimkan 2amplop yang satu berwarna cokelat dan yang satu berwarna hitam
untukku dan ibuku. Aku membuka amplop itu, kutarik kertas putih bertinta emas
berpita pink itu disitu tertulis nama Rachel dan pria itu pria yang bisa
membuat Rachel bahagia. Perih sebenarnya membaca surat itu tapi aku harus
tegar. Akupun mebuka amplop yang satu lagi ternyata surat penerimaan beasiswa,
aku diterima disalah satu universitas di LA, syukurlah ini kuanggap sebagai
obat pelipur laraku. Dan syukurnya aku tak perlu menghadiri pesta pernikahan
Rachel, keberangkatanku sudah ditentukan 2 hari sebelum pernikahan itu.
Rachel
Aku lihat
kembali layar HPku ‘dear Paul..ada yang
harus aku bicarakan mala mini. Aku akan menunggumu di taman dekat hutan jam
19.00 nanti’ aku menekan tombol ‘Send’. Aku harus melakukannya mala mini
aku tak boleh membiarkannya terlukaa, aku tau aku tak layak untuk bersama
setelah semua yang kulakukan padanya pada hatinya, pada hidupnya. Ketika aku
akan melangkah keluar rumah “Mempelai wanita mau kemana sih??kok perginya
mengendap endap gitu’ ujar Rebecca sambil menggendong si kecil Vanessa “aku
harus menyelesaikan sesuatu Caa..dan mengucapkan perpisahan padanya”ujarku
lirih hampir berbisik “kamu harus kuatt Chell..semuanya pasti ada
alasannyaaa”Rebecca memelukku erat dan mencium pipiku “I know Caa..thanks
dear”aku mengayuh sepedaku ketempat aku dan Paul janjian,aku akan tetap
menunggunya meski ia tak datang sekalipun. Tekadku sudah bulat, dingin yang
menusuk tulangku tak ku gubris. Aku tetap menunggu 45 menit berlalu, tapi Paul
belum muncul juga. Aku mulai khawatir jangan jangan dia tak datang seperti
dugaanku, tapi siapa aku yang begitu berani mengaharpkan kedatangannya .
bukankah aku yang telah melukai hatinya terlalu dalam, bukankah aku penyebab
dia menderita sudahlah ini tak pantas. Aku harus kembali. Ketika aku berjalan
menuju sepedaku “Rachell..”suara itu menggetarkan relung hatiku Paul pasti diaa
“Paull..kamu datang??”airmataku luruh, entah bagaimana aku menyadari aku
terisak dipelukannya, aku meracau meracau “maafkan aku Paul..aku terlalu
idiot..aku telah menyakitimu..melukaimu..aku terlalu egooo..aku gag pantas
mendapatkan cintamu paul..aku gag pantaasss”Aku menangis menangis tanpa henti,
Paul tak berbicara sepatah katapun hanya pelukannya yang semakin erat, hanya
tangannya yang mengelus rambutku. Paul diam diam tak bergeming, dan aku terus
menyalakan diriku..”Tuhannn kenapa bukan aku saja yang mati, aku tak rela
melihat mereka terluka Ryan Paul..aku akuu wanita brengsek”aku berteriak
teriak “ssshh shhh.. sudah shayank
sudahh..jangan berkata begitu..bagiku kamu wanita hebat..kamu wanita terindah
dihidupku, tolong tolong jangan seperti ini”dia berusaha menenangkanku “tapi
Paul, aku tak pantas menerima cinta kalian yang begitu besar”aku masih histeris
dipelukannya”enggak shayank..enggakk kamu itu Bidadari yang tercantik
diduniaku, kamu gag boleh seperti ini..Ryan membutuhkanmu shayank, STOP
MENYALAHKAN DIRIMU SENDIRI”dia meraih mukaku mencium setiap incinya, aku masih
tak sanggup membuka mata hanya air mata yang mengalir dipipiku.
Paul
Aku tak tega melihatnya seperti ini, ingin rasanya aku
menghukum diriku sendiri. Betapa egoisnya aku ingin menghakiminya, sedangkan
diaa dia lebih rapuh dariku. Aku sungguh bodoh. Aku terdiam memeluknya hingga
pagi menjelang. Tak ada yang kami lakukan, mungkin ini adalah cara kami
mengungkapkan rasa yang ada dihati kami. Dan jujur kuakui ini adalah perpisahan
yang terindah untukku. Berdua dengannya semalaman, memeluknya berteman langit
malam bulan dan bintang. Sampai akhirnya “Chell..sepertinya kamu harus pulang,
kasian keluargamu dan Ryan mereka akan bingung melihatmu tak ada dikamar”ujarku
“sudah pagi yaaa, maafkan aku Paul..aku sudah mengotori jaketmu dengan air
mataku”kulihat matanya masih sembab, mungkin akan terlihat membengkak “gag
masalah dear..ouh iya sepertinya kamu harus mengompres matamu agar tak terlihat
bengkak”sebelum berpisah sekali lagi aku memeluknya dan mencium keningnya
“dimanapun aku, seperti apapun keadaanku..satu yang pasti hatiku dan segalanya
tentang diriku adalah milikmu”bisikku, dia membalasnya dengan tersenyum
kemudian dia mencium kedua tanganku “me too..goodbye my boy” kamipun jalan terpisah.
Sesampainya dirumah aku melanjutkan mengePack ngepack semua barang barangku.
Pagi ini sebelum berangkat aku sempatkan mengiriminya SMS “dear Bidadariku yang tegar..selamat menempuh hidup baru dengan
Ryan..berbahagialah dengannya, aku selalu berdoa yang terbaik untuk hubungan
kalian..jangan lupakan aku, aku mencintaimu selamanya” kutekan tombol
‘SEND’, lalu aku melangkah dengan mantap kearah Check in.
Rachel
Besok pagi aku akan resmi menjadi Mrs Leevine, tapii kenapa
hatiku gelisaah??kenapa ada yang mengganjal??kenapa bayang bayang Paul yang
muncul??aku mengacak acak rambutku..drrttt drrrttt kubuka layar Hpku ternyata
Paul, tak terasa air mataku menetes membacanya “Rachel..”Ecca memanggilku
“yaaa..”aku menghapus airmataku dan menoleh kearah Rebecca ddengan tersenyum
“Ryan ingin bicara denganmu, dia menunggumu di taman belakang”lanjutnya
“yaaa..aku segera kesana..terima kasi Ecca”. Aku berjalan mmenuju taman
belakang, sepi dan sunyi hanya ada suara gitar yang dimainkan Ryan
“Ryann..”panggilku ‘ouhh haii Dear..sinii dudukk disinii”dia menggeser tubuhnya
kesebelah, aku duduk disebelahnya. Dia menggenggam tanganku “terima kasih untuk
semua waktu yang telah kau berikan padaku..aku tau rasa cintamu untukku tak
pernah ada,aku terlalu egois memaksakan segalanya hingga membuatmu terluka..
maukah kau memaafkanku Chel??”tanyanya, aku terdiam “Chell..”dia berlutut
dihadapanku “Please aku mohon..maafkan aku dan keegoanku..aku tak ingin lagi
kau terluka..katakan sesuatu Chell..karena mungkin inilah saat terakhir aku
bisa menatapmu seperti ini lagi”ada kesungguhan yang terlihat dari matanya “aku
yang salah Yan..aku yang menyakitimu..aku yang terlalu mikirin diriku
sendiri..aku akuu”airmataku mengalir “noo nooo.. aku gag mau kamu nangis”dia
menghapus airmataku dengan jemarinya “Bidadari gag boleh nangis..Bidadari itu
harus terus tersenyum..karena kecantikannya akan terlihat disana”ujarnya, aku
berusaha tersenyum, memperlihatkan senyum terbaikku untuknya “jika sekarang
kamu bukan milikku, aku percaya dikehidupan selanjutnya kamu akan menjadi
jodohku”dia mencium keningku tiba tiba dia terjatuh tak sadarkan diri. Aku
panik “Jakeeeeeee..Dadddddddd..tolongggg”teriakku “Ryannn ryaaann..bangun
shayank..aku disinii bangunnn jangann pergi duluu”airmataku semakin deras,
dadaku sesak ‘Tuhannnn..jangan ambil
Ryan..jangan tuhaann, aku belum bisa membahagiakannya. Aku mohon tuhann’.Kami
membawa Ryan ke UGD “Maaf Bapak bapak dan ibu ibu..Mr Ryan akan ditangani oleh
dokter. Mohon untuk sabar menunggu diluar”ujar perawat cantik itu. Tepat pukul
2 malam dokter yang merawat Ryan keluar “Mr. Ryan ingin bicara dengan
orangtuanya dan nona Rachel”ujar Dokter tersebut, dengan tergesaa aku berlari
kekamar Ryan. Ketika melihat kami datang Ryan melepas oksigen yang terpasang di
hidungnya “Mom and dad..mungkin ini saat yang tepat untukku pergi, aku
mencintai Mom and dad melebihi segala sesuatu yang ada didunia ini..maafkan aku
jika selama ini aku jadi anak durhaka..maafkan aku belum bisa membahagiakanmu
mom..”kulihat Mrs Leevine menggenggam tanga Ryan “Rachell..my angel, kamu harus
selalu tersenyum, aku gag mau liat ada airmata ketika aku gag disampingmu
lagi..karena aku tau kamu wanita kuat..aku mencintaimu Rachh..cheell”setelah
berbicara seperti itu Ryan menutup matanya, tak bergerak namun hanya tersenyum.
Mrs Leevine mulai histeris dan berteriak memanggil nama Ryan Mr. Leevine dengan
panic memanggil perawat sedangkan aku..aku menangis, getaran hebat kurasakan
ditubuhku sakit rasanya melihat Ryan pergi meninggalkanku dengan cara seperti
ini. Aku melampiaskan kemarahanku kedinding aku memukul dinding kamar berusaha
membenturkan kepalaku sendiri berteriak histeris memanggil Ryan. Saat Jake
datang sekelilingku kabur dan aku rasa aku tak sadarkan diri. Hari ini adalah
hari pemakamannya, bukan hari pernikahan kami.
Aku berjalan bersama nessie, dia menopangku. Entah mengapa rasanya tubuh
ini letihh, hatiku rapuh.
Paul
Akhirnya tiba
juga aku di kota ini, kota dimana Rachel dan Ryan tinggal. Sejujurnya aku tidak
rela dipindahkan kekota ini, tapi mau bagaimana lagi jika aku ingin naik
jabatan aku harus mau dimutasi. Dan disinilah aku pada akhirnya, tiba dikota
yang lebih besar dari forks. Aku berdoa semoga aku tidak dipertemukan dengan
Rachel, walau sejujurnya didalam sini dihatiku aku amat sangat merindukan saat
saat bersamanya. Sebelum aku kerumah dinasku aku mampir kesebuah minimarket,
tapi entah kenapa hatiku bergetar, detaknya lebih cepat dari biasanya. Aku abaikan
perasaan itu aku menuju counter minuman dingin, kuambil minuman yang kuinginkan
bersamaan dengan itu tangan seseorang juga mengambil minuman itu “ouhh
maaafkann saya..”ujarku, dan tuhan sepertinya tidak mendengar doaku RACHEL
disini dihadapanku “Rachel??”ujarku dia mendongak “ouhh haii Paul..apa kabarr??”senyuman
itu tak pernah bisa kulupa “aku aku baik baik saja”jawabku “ouh iya bagaimana
dengan Ryan, dia baik baik saja khan”tanyaku seketika kulihat perubahan itu “kamu
tinggal dimana Paul??”dia mengalihkan pertanyaan “aku tinggal dialamat ini”aku
menunjukkan kertas yang bertuliskan tangan asistenku “ ini dekat dari rumahku,
ayoo kuantar”. Kami berjalan berdua menyusuri jalanan yang penuh dengan pejalan
kaki ini, kami mengobrol hal hal ringan sampailah aku didepan sebuah rumah “mau
masuk dulu Paul??”tanyanya”tentu saja Chell, aku juga ingin bertemu Ryan”aku
pun mengikutinya untuk masuk keruangan yang begitu rapi ini. Aku menyusuri
ruangan ini mencari foto foto pernikahan Ryan dan Rachel tapi yang kucari tak
kutemukan “Mau minum sesuatu Paul??”tanyanya mengagetkanku “ehh gag usah aku Cuma
butuh es batu dan gelas saja agar Coke ku ini lebih enak diminum..Ryan kok gag
keliatan Chel?belum pulang kantor yaa?”jawabku “Ryan pergi, Paul..Dia sudah
pergi”ada kesedihan dibalik ucapannya itu “pergi??dia pergi
meninggalkanmu??setelah aku berkorban dia malah meninggalkanmu”emosiku naik,
aku akan mencari Ryan kekantornya akan kupatahkan leher itu “Dia dia sudah
pergi kesurga Paul..dia meninggal” bagai petir disiang bolong, aku kaget bukan
main dengan segera aku memeluk tubuhnya “maafkan aku Chel..tapi bagaimana
bisa??” cerita hari itupun mengalir dari bibir Rachel, Sebelah sayapnya patah dan
aku aku tak ada disampingnya untuk menopangnya, rasa bersalah melandaku lagi.
Rachel
Sejak pertemuan kembaliku dengan Paul. Hari hariku mulai
berwarna lagi. Kerapkali kami menghabiskan waktu di taman berdua sambil membaca
buku dan saling berpegang tangan. Atau bersepeda seperti waktu itu. Ada yang
lain hari ini Paul memintaku memakai gaun yang dia belikan, gaun Putih gading
selutut berpita merah dipinggang. Dia juga memintaku untuk berdandan. Aku mengenakan
sepatu Higheels favoritku yang berwarna senada dengan pita digaunku. Tok tok
tok aku bergegas turun, ketika aku membuka pintu aku kaget melihat Paul begitu
tampan menggunakan tuxedo hitam dan bungan yang disematkan disakunya.”sudahh
siapp Tuan Putri”dia menyodorkan tangannya yang kusambut dengan riang “tapi
sebelumnya maaf”dia mengeluarkan kain hitam dan menutup mataku “ini surprise untukmu
shayank”. Setelah satu jam lebih “masih
lama yaa shayank”tanyaku yang sudah tak sabar “sebentar lagi shayank, 5 menit
lagi”dia mencium tanganku. Dalam kegelapan aku semakin bingung “akhirnya kita
sampai juga shayank…eitsss penutup mata itu gag boleh dibuka yaa”ujarnya ketika
aku akan membuka penutup mata itu, aku pun tersipu malu. “kamu bawa ini yaa”dia
memberikan buket bunga padaku, dan sepertinya itu bunga kesayanganku bunga
Lily.Setelah 5 meter berjalan samar aku mendengar banyak orang berbicara, ahh
mungkinaku dibawa kesebuah café seperti biasa “kita sudah sampai..jangan buka
mata dulu sampai aku bilang buka..dan jangan curang yaa”aku merasakan tangan
Paul di belakang kepalaku “oke sekarang buka mata kamu shayank”ketika aku
membuka mata ternyata aku ada disini didepan makam Ryan, Mr Leevine , Mrs
Leevine, Daddyku, Rebecca dan Solomon ,Jake, Nessie, dan Emy. Diantara kebingunganku
Paul berlutut sambil menyentuh nisan Ryan “Ryan, hari ini disini didepana
makamu, didepan orangtuamu Aku Paul LAhote meminta ijin kepadamu untuk Menikahi
Dia, Rachel Black..Bidadari kita bersama, aku akan memenuhi semua permintaan
yang ada di wasiatmu..bahwa aku akan selalu ada dikala dia senang dan menangis,
saat susah dan mudah, saat sehat dan sakit..saat segala sesuatunya terlalu
berat untuknya..Dan untukmu shayank , Rachel Black bersediakah kau menikah
denganku??”aku terdiam tak sanggup berbicara apapun, hanya airmataku saja yang
berderai. “aku aku bingung mau bilang apa Paul..aku gag nyangka kamu akan
begini..sesungguhnya aku bahagia bersamamu..hikss bahagiaa menjalani segalanya
bersamamu..tapii..” “Rachel, Mommy bukan mau mencampuri urusanmu ..tapi mommy
percayaa mommy yakin jika Ryan disini diapun akan berkata yang sama bahwa dia
bahagia melihatmu bahagia..”mendengar itu airmataku semakin deras.aku semakin
tak dapat menguasai diri. Sekali lagi aku memandang wajah Mr. dan Mrs Leevine
mereka berdua tersenyum dan mengangguk, aku memandang kesegala penjuru mereka
semua tersenyum dan antara sadar atau tidak disana aku melihat Ryan tersenyum dan
mengangguk aku ikut tersenyum sambil menangis akupun menjawab “yess..i do..i
doo Paull..i dooo”Paul dengan segera memasangkan cincin itu dia memelukku dan
berbisik “I love you to much Rachel” “I love you too Paul.. I love youuu”. Setahun
kemudian anak lelaki kami lahir kedunia dan kami memberinya nama Ryan Lahote.
End
